Oleh:
Ahmad Hamdani


Salah satu isu penting yang dihadapi manusia sejak awal kehidupannya hingga menjadi isu global saat ini adalah isu lingkungan hidup (environment). Kesadaran tentang perlunya harmoni dengan lingkungan kini menjadi perhatian banyak kalangan. Munculnya pelbagai permasalahan lingkungan, baik lokal, regional, maupun global dewasa ini semakin mengkhawatirkan. Perubahan iklim akibat global warming, misalnya, menyebabkan bumi tidak lagi seimbang. Hal tersebut kemudian berdampak pada tidak dapat diprediksinya sesuatu musim. Di belahan bumi yang lain curah hujan begitu tinggi hingga mengakibatkan banjir dan erosi, sementara di belahan lainnya terjadi kekeringan yang berkepanjangan.
Begitupun dengan Indonesia, tujuh puluh tahun sudah negeri ini memproklamasikan diri merdeka, tapi problematika lingkungan tetap saja mengemuka. Berdasarkan data dari Rencana Strategis 2015-2019 Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, disebutkan bahwa Indonesia terus mengalami peningkatan pencemaran udara, penurunan kualitas air, masalah hutan dan lahan, hingga ancaman punahnya keanekaragaman hayati. Pelbagai gejala tersebut kemudian menderivat menjadi bencana nasional, seperti banjir di Bangka Belitung di awal tahun 2016, banjir Jakarta tahun 2015, kekeringan di beberapa daerah di Pulau Jawa tahun 2015, kebakaran hutan di Riau tahun 2015, hingga deforestasi dan degradasi hutan yang selalu terjadi di Kalimantan dan Sumatera. Seolah tidak berkesudahan, Wisnu Aji Prasetyo (2015: 3), mengungkapkan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 1.582 bencana alam yang terjadi di Indonesia sepanjang 2015.
Banyaknya problematika lingkungan yang terjadi secara dominan dan signifikan tersebut, apabila dilihat secara seksama, sebenarnya berakar pada perilaku eksploitatif dan konsumtif manusia yang berparadigma antroposentris dengan menempatkan manusia sebagai centre of the universe. Senada dengan hal ini, dalam menganalisa penyebab krisis lingkungan global, Fritjof Capra berpendapat bahwa krisis tersebut merupakan akibat dari worldview dan keserakahan manusia terhadap alam, baik keserakahan dikarenakan kemiskinan, kebodohan, atau keserakahan untuk menghimpun kekayaan yang banyak (Abdul Quddus, 2012: 132).
Isu lonjakan penduduk sering kali menjadi tema besar dalam perbincangan tentang krisis lingkungan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Keterkaitan keseimbangan lingkungan dan kelestarian terhadap peningkatan jumlah penduduk diikuti dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Hal inilah yang sebenarnya menjadi poin dalam menyandarkan masalah lingkungan. Meningkatnya jumlah penduduk telah memberikan dampak nyata bahwa kebutuhan untuk sandang, pangan, dan papan akan ikut meningkat serta menuntut tambahan sarana dan prasarana untuk melayani keperluan masyarakat. Walaupun lingkungan menyediakan berbagai jenis sumberdaya alam, baik sumberdaya alam hayati maupun non hayati, yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui, tetapi alam memiliki daya dukung lingkungan yang terbatas. Oleh sebab itu, kita harus meninggalkan paradigma terlalu menekankan aspek materi-positivistik, untuk menunju paradigma pengetahuan yang berwawasan lingkungan.
Berangkat dari permasalahan di atas, tulisan ini akan menyoroti, bagaimana problematika lingkungan saat ini? Bagaimanakah seharusnya menyikapi masalah ekologi dengan kependudukan? Semoga, dari tulisan ini bisa menjadi ‘oase’ dalam memberikan semangat menjaga ekologi dan memberikan manfaat bagi pembaca.

Keterkaitan Ekologi dan Kependudukan: Analisis Permasalahan



Ekologi merupakan ilmu tentang tempat tinggal makhluk hidup, atau biasa didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya (Karden, 2009: 4). Menariknya, semenjak pertama kali ekologi diperkenalkan, ilmu ini kurang menarik perhatian para ilmuan dikarenakan dianggap sebagai ilmu murni yang terlalu general dan kurang bermanfaat. Namun, setelah terjadi krisis lingkungan dan dilaksanakan Konferensi Internasional tentang lingkungan hidup di Stockholm pada tahun 1972, barulah ekologi menarik perhatian semua pihak, baik ilmuan, politikus, terlebih kaum agamawan.
Sebenarnya sudah sejak tahun 1950-an masalah lingkungan mendapat perhatian serius, tidak saja dari kalangan ilmuan, tetapi juga politisi maupun masyarakat umum (Saifullah, 2007: 1). Namun, perbincangan tentang problematika lingkungan seolah tidak ada hentinya. Bumi semakin panas. Ini bukan judul film, tetapi gejala nyata yang dirasakan dunia saat ini. Betapa tidak! Suhu rata-rata udara di permukaan Bumi yang di abad lalu meningkat 0,75ºC, dalam 50 tahun terakhir ini naiknya berlipat ganda. Badan PBB, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), memproyeksikan bahwa pada tahun 2100 suhu rata-rata dunia cenderung akan meningkat dari 1,8ºC menjadi 4ºC—dan skenario terburuk bisa mencapai 6,4ºC— kecuali dunia mengambil tindakan untuk membatas emisi gas rumah kaca (Said, 2011: 2).
Membahas ekologi dan kependudukan tidak bisa secara parsial karena merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan satu kesatuan yang saling membutuhkan. Keterkaitan antara ekologi dan kependudukan seringkali dihubungkan dengan kebutuhan ekonomi, hal ini diterangkan oleh Syakur (2008: 44-45), bahwa setidaknya ada dua bentuk tekanan kuat yang dirasakan menghimpit masyarakat dunia sedang berkembang. Pertama, bersifat eksternal, yakni himpitan yang datang dari negara-negara industri maju yang hendak mempertahankan dominasi dan supremasi kekuatan ekonomi dan tingkat standar hidup yang selama ini telah mereka nikmati. Kedua, bersifat internal, yakni himpitan yang datang dari dalam negeri sendiri. Himpitan yang kedua ini muncul dari tuntutan para penguasa dan pemerintah masing-masing negara berkembang yang bermaksud meningkatkan taraf perekonomian rakyat dengan cara meniru pola dan tata cara yang pernah dilakukan oleh negara-negara industri, khususnya menyangkut eksploitasi sumber alam.
Namun ironisnya, penyempitan wacana lingkungan dalam ekologi terapan dewasa ini melahirkan suatu kenyataan, bahwa titik fokus kajian problem lingkungan selalu didasarkan pada nilai untung bagi kepentingan manusia, bukan nilai untung bagi lingkungan itu sendiri, atau keuntungan pahala yang didapat dari Tuhan. Akibatnya, problem lingkungan yang tidak memberi keuntungan bagi manusia akan diterlantarkan, diacuhkan, bahkan akan dikesampingkan. Dengan demikian, ekologi akan memunculkan wajah arogan, bukan ekologi santun yang utuh yang berperikemakhlukan. Kondisi ini lah yang pemicu terjadinya pelbagai problematika lingkungan di bumi tercinta.

Menggagas Solusi

“Pedulikah kita pada lingkungan hidup?” adalah sebuah pertanyaan reflektif yang mengajak kita untuk sejenak merenungkan kehidupan di sekitar kita. Lingkungan adalah “konteks” di mana kita hidup dan bertempat tinggal. Apabila lingkungan hidup tersebut terganggu dan mengalami kerusakan, maka kehidupan dan tempat tinggal kita pun akan terusik. Lebih lanjut, Takdir (2014: 3), mengungkapkan dampak dari terjadinya pencemaran atau kerusakan lingkungan adalah timbulnya ancaman atau dampak negatif terhadap kesehatan, menurunnya nilai estetika, kerugian ekonomi (economic cost), dan terganggunya sistem alami (natural system).
Begitupun dengan Indonesia, menurut Badan Pusat Statistika (BPS), hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat, yaitu dari 238,5 juta pada tahun 2010 menjadi 305,6 juta pada tahun 2035 (BPS, 2013: 23). Kondisi ini tentu akan  memberi dampak yang sangat luas, termasuk pada kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang dipastikan akan meningkat. Kebutuhan yang terus meningkat pada akhirnya akan  menyebabkan   penggunaan   sumberdaya   alam   sulit dikendalikan, pemanfaatan alam  yang berorientasi pada keuntungan pribadi pun akan sukar dihindarkan. Hal tersebut akan berakibat pada terganggunya keseimbangan lingkungan dan mengancam kelestarian alam.

                                

Berangkat dari kondisi di atas, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga lingkungan agar tetap lestari dan memberikan manfaat berkelanjutan. Pertama, menata kembali sistem dan pendekatan program Keluarga Berencana (KB) nasional. Program KB harus lebih intensif dan makin meluas dengan menekankan penyadaran pada masyarakat. Misalnya di Belitung Timur, warung kopi yang disulap menjadi Pusat Informasi Pelangi KB pria. Setiap minggunya diadakan penyuluhan, berbagi pengalaman dan bincang-bincang ringan seputar KB khususnya vasektomi kepada bapak-bapak pelanggan warung kopi. Situasi ini menunjukan hasil yang menggembirakan. Pencapaian peserta baru vasektomi pun melonjak tajam di Belitung Timur, karena informasi yang jelas mengenai vasektomi dapat dipahami dengan baik dan diberikan dengan cara yang santai sambil ngopi-ngopi.
       Kedua, melalui sektor pendidikan. Membahananya isu dunia tentang kerusakan lingkungan tentu tidak bisa disikapi biasa-bisa saja. Diperlukan usaha yang luar biasa untuk bisa mentamengi dunia dari kerusakan lingkungan, salah satunya masuk melalui pendekatan pendidikan. Misalnya, melalui intergrasi nilai pada mata pelajaran yang ada di sekolah, seperti menjadi mata pelajaran, bab, atau sub bab khusus. Sehingga, melalui pendidika telah disiapkan insan yang diharapkan melek terhadap isu-isu lingkungan.



        

          Ketiga, melalui pendekatan integratif kelembagaan. Ketika dua cara di atas sudah di tempuh, perlu dilakukan penguatan secara mendasar. Pendekatan integratif kelembagaan di sini menemukan tempatnya. Sebagai isu global, kerusakan lingkungan tidak bisa jika hanya di selesaikan secara perseorangan, namun harus didukung oleh kebijakan-kebijakan mengikat dari pihak-pihak terkait, seperti lembaga pemerintahan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Pemerintah Daerah dan lain sebagainya. Sebagai contoh adalah membandrol kantung pastik Rp200,00 di minimarket. Selain itu, program Jum’at bersih yang diadakan beberapa kelurahan di Kabupaten Serang patut dijadikan contoh. Hal ini senada dengan semangat dari nawa cita Jokowi-JK untuk rakyat Indonesia, yaitu akan menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara.
Keempat, memberdayana potensi besar kaum muda Indonesia. Menurut BPS 2009, Indonesia memiliki jumlah remaja yang cukup besar, yaitu sekitar 55% dari jumlah penduduk Indonesia. Potensi ini harus diarahkan agar remaja bisa terlibat aktif dalam menjaga  kelestarian lingkungan. Mulai dari memberikan pemahaman untuk menjaga lingkungan, kemudian memvisualisasikannya melalui kegiatan konkret. Misalnya, budaya membuang sampah pada tempatnya, kegiatan-kegiatan kreatif seperti daur ulang sampah dan menjadi penggerak roda organisasi yang bervisi pada pelestarian lingkungan, hingga menyuarakan pentingnya lingkungan pada forum-forum nasional atau internasional.
        Ketika empat cara di atas bisa direalisasikan dengan baik, maka ekologi dan kependudukan menjadi dua hal yang tidak hanya merupakan kesatuan utuh, tetapi juga dapat memberikan kebermanfaatan. Semoga!


Simpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa problematika lingkungan dewasa ini perlu diatasi dengan baik. Munculnya gagasan ekologi menjadi angin segar di tengah problematika lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Keterkaitan antara kependudukan dan lingkungan menjadi tanda bahwa semakain baik kualitas penduduk dalam memahami lingkungan, akan memberikan solusi nyata untuk permasalahan yang ada. Pembahasan tentang keduanya sejatinya tidak hanya sekadar membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan, tetapi yang terpenting adalah dalam pengertian menerapkan.
Kesadaran bahwa problematika lingkungan tidak semata-mata masalah yang bersifat sekuler, tetapi berakar dari pemahaman penduduk terhadap lingkungan merupakan poin penting yang menuntut kontribusi banyak pihak. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama bekerja secara berdampingan. Sehingga pada akhirnya, lingkungan bumi dapat memberikan manfaat berkelanjutan. Semoga!


Referensi
A.  Sumber Buku
Proyeksi Penduduk Indonesia Indonesia Population Projection 2010-2035. 2013.  Jakarta: BPS.
Rahmadi, Takdir. 2014. Hukum Lingkungan di Indoneisa. Cet. Ke-4. Jakarta: Rajawali Press.
Rencana Strategis Kementrian Lingkungan Hidup. 2015. Jakarta: KLHK.
Saifullah. 2007. Hukum Lingkungan: Paradigma Kebijakan Kriminal di Bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati.Malang: UIN Malang Press.

B.  Sumber Jurnal dan Surat Kabar
Abdul Quddus. 2012. “Ecotheology Islam: Teologi Konstruktif Atasi Krisis Lingkungan”, dalam Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 16 Nomor 2 (Desember).
Prasetyo, Wisnu Aji. 2015. “Longsor, Banjir, dan Puting Beliung Ancam 2016”. Surat Kabar Republika, 27 Desember 2015.
Said Tuhuleley. 2011. “Ekoteologi Pertanian: Suatu Pemikiran Awal”. Disampaikan dalam Seminar Nasional Transformasi Teologi dan Reaktualisasi Etos Kerja IslamSebagai Respons terhadap Pergeseran Peta Geoekonomi, Geopolitik, dan Geobudaya Globalke Cina, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Kampus UMY.

Syakur Sf, Muhammad. 2008. “Perspektif Pelestarian Lingkungan Hidup dalam Islam”, dalam Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, Volume 4 Nomor 1.

Mimpi merupakan sebuah harapan atau cita-cita yang ingin dicapai. Berbicara tentang mimpi, berarti membahas tentang kontribusi apa yang akan diberikan. Hal ini karena kita adalah makhluk sosial yang tidak akan pernah terlepas dari interaksi dan hubungan dengan lingkungan sekitar.
Sejatinya, mimpi setiap orang berkemabang seiring dengan kebutuhan dan realitas yang dihadapi. Mimpi adalah hal penting dalam kehidupan. Mimpi memberikan tujuan jelas, sehingga kita bisa merancang hal apa saja yang harus kita lakukan untuk mencapai mimpi tersebut. Saya percaya dibalik kesuksesan seseorang ada mimpi yang sebelumnya diangankan.
Bagi saya, mimpi adalah hal mutlak yang mesti ada dalam hidup. Mimpi ibarat pos-pos pemberhentian tentang pencapaian hidup. Ibarat jalur hidup yang harus kita lalui mesti memberi kontribusi dan sarat akan manfaat bagi sesama.
Saya adalah pemuda yang dari kecil mengenyam pendidikan di pelosok Kab. Serang, Banten, sebelum akhirnya kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Lahir dari keluarga sederhana, menjadi semangat hidup tersendiri bagi saya. Simple ! Hanya ingin bisa lebih baik di masa mendatang. 
Dari kampung, melelui televisi saya sudah biasa disuguhi kondisi bangsa. Mulai dari berita kemiskinan yang rasanya sulit terkentaskan, potret pendidikan Indonesia yang masih belum menggembirakan hingga permasalahan sosial-kemasayarakatan. Melihat kondisi ini, sebagai putra bangsa saya turut terpanggil. Terpanggil untuk bisa memberikan kontribusi terbaik. Dan hal tersebut kemudian terdeskripsikan melalui mimpi saya.
Melalui tulisan ini, saya akan fokus terhadap pendidikan. Pendidikan merupakan aspek penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Cukuplah sederhana melihat kehebatan suatu negara, yaitu dari sumberdaya manusia yang terdidik. Oleh karenanya sekarang saya kuliah di jurusan pendidikan. Jika diperhatikan, sebenarnya secara mendasar gejolak permasalahan bangsa dapat dikentaskan melalui pendidikan. Pengangguran dan kemiskinan misalnya, tidak akan terjadi jika orang tersebut memiliki keterampilan, dan keterampilan tersebut didapatkan melalui proses pendidikan. Berangkat dari hal ini, kemudian saya reduksi melalui 3 mimpi. Pertama, meraih pendidikan tinggi; Kedua, menjadi penulis profesional; dan Ketiga, menjadi Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI.


Mimpi Pertama, Memperoleh Pendidikan Tinggi spesifikasinya S1 di luar daerah, S2-S3 di luar negeri dengan beasiswa. Pendidikan tinggi adalah kewajiban bagi saya, hal ini melihat kondisi sosio-kultur lingkungan Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumberdaya manusia untuk pembangunan. Mimpi kedua, Menjadi Penulis Profesional. Menulis adalah kebutuhan, tidak hanya bagi pengembangan kompetensi diri, namun lebih jauh adalah untuk promosi, mengikat pengetahuan dan berbagi. Penyebarluasan ilmu yang saya dapatkan akan lebih masif melalui tulisan. Mimpi Ketiga, Menjadi Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Saya sadar, pengimplementasian ilmu dan pengalaman haruslah menemukan wadah agar bisa bisa terasa manfaatnya. Relaita pendidikan di Indonesia masih berada pada pusaran rintangan yang kompleks. Akses pendidikan yang tidak merata, kualitas, sumberdaya kependidikan, bahan ajar, dan lain sebagainya masih menjadi momok bagi pendidikan di Indonesia. Hal ini kemudian terdeskripsikan melalui data Human Development Index dimana Indonesia masih berada diperingkat bawah. Padahal Pendidikan sampai saat ini masih dipercaya oleh banyak kalangan sebagai tempat pembentukan karakter dan penyiapan sumberdaya manusia yang unggul. Oleh karenanya, saya ingin menjadi Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI, untuk bersama-sama menjadikan Indonesia unggul, mulai dari proses krusial yaitu pendidikan.

Semoga terwujud. Amin.
Oleh:
Ahmad Hamdani 

Anti nuklir? Jangan dulu! Bisa jadi tanpa disadari dewasa ini kita seringkali memanfaatkannya. Nasi yang kita konsumsi setiap hari mungkin saja adalah beras yang dihasilkan dari proses radiasi nuklir. Bestari dan Mira-1 misalnya, tidak banyak yang tahu bahwa beras yang memiliki tekstur nasi yang pulen serta tahan terhadap serangan hama ini merupakan hasil iptek nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
Pada masa sekarang, hama dan penyakit utama padi seringkali mengakibatkan penurunan produksi  hingga kerugian mendalam bagi petani Indonesia. Wereng Coklat, Nilaparvarta Lugens, Stal, dan penyakit hama daun bakteri Xanthomonas Oryzae misalnya, hama dan penyakit tersebut dapat menyerang padi pada semua stadia. Hal ini tentu merupakan kendala biologis utama dalam meningkatkan produksi tanaman padi.
Kehadiran nuklir dewasa ini semakin mendapat sambutan baik dari masyarakat. Jika selama berpuluh-puluh tahun nuklir di kenal sebagai sesuatu yang berbahaya, menimbulkan radiasi dan penyebab kerusakan lingkungan, kini nuklir dianggap sebagai sesuatu yang  hadir sebagai solusi, bermanfaat, dan memberikan berkah. Misalnya saja dalam bidang pertanian, nuklir berhasil menghadirkan varietas padi yang unggul. Penggunaan varietas unggul merupakan sebuah teknologi yang handal dalam meningkatkan produksi pangan. Selain lebih aman, varietas unggul juga lebih ramah terhadap lingkunagan dan harganya relatif murah. Adanya varietas unggul bisa menjadi solusi untuk membantu meningkatkan produksi padi petani serta sebagai tameng terhadap hama dan penyakit bakteri hawar daun disamping sifat-sifat unggul lainnya.


Varietas Cisantan adalah padi hasil litbang dari Departemen Pertanian (Deptan) yang mempunyai sifat, yakni: umur genjah, anakan produktif banyak, tahan wereng coklat biotipe 1 dan 2, tahan penyakit hawar daun strain III, potensi hasil ±7,0 ton/ha dengan tekstur nasi pulen. Namun varietas Cisantana masih mempunya sedikit kekurangan, yaitu bentuk ujung gabah yang berbulu menyebabkan varietas ini tidak banyak diminati petani Indonesia.

Pada umumnya varietas yang ujung gabahnya berbulu mempunyai rendemen giling lebih rendah dibandingkan dengan varietas padi yang ujungnya tidak berbulu. Selain itu, varietas Cisantana juga memiliki batang tanaman agak tinggi dan rentan terhadap penyakit hawar daun strain IV, yang nantinya akan berpengaruh terhadap komponen hasil produksinya.
Untuk memperbaiki sifat-sifat tersebut, Pusat Aplikasi  Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR) BATAN pada tahun 2000 telah melalukan perbaikan varietas Cisantana  dengan teknik mutasi industri. Teknik mutasi industri merupakan cara yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat yang kurang menguntungkan pada tanaman. Artinya, dengan teknik mutasi industri tanaman tidak akan kehilangan atau berubah sebagian besar sifat aslinya. Dari penelitian ini, kemudian diperoleh galur Obs-1688/PsJ dan Obs-1692/PsJ sebagai vaietas unggul baru. Galur tersebut kemudian oleh Deptan diberi nama Mira-1 dan Bastari masing-masing pada tahun 2006 dan 2008.


Setalah melalui seleksi dan pemurnian, uji daya hasil dan uji ketahanan terhadap hama wereng coklat dan penyakit hawar daun, ternyata  galur mutan Obs-1688/PsJ dan Obs-1692/PsJ mempunyai produksi tinggi, umur ganjah, tahan hama wereng coklat biotipe 1 dan 2 serta agak tahan biotipe 3, tahan penyakit bakteri hawar daun strain III serta cukup tahan dtrain IV. Selain itu, Bestari dan Mira-1 memiliki struktur nasi pulen, mutu dan kualitas berasnya juga bagus.
Radiasi nuklir sebagi berkah. Nampaknya ungkapan tersebut layak dinisbatkan kepada nuklir yang telah berhasil melahirkan solusi pada bidang pertanian. Bestari dan Mira-1 sebagai produk yang dihasilkan dari riset nuklir merupakan varietas unggul yang potensial dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi padi nasional. Contohnya pada Mira-1, varitas yang telah mendapatkan sertifikasi dari Deptan ini mampu menghasilkan 9,20 ton/ha dengan rata-rata produksi 6,9 ton/ha gabah kering giling.

Masih ada sebongkah harapan dari BATAN yang bijak menyikapi masalah pertanian di Indonesia. Disinilah urgensi kehadiran varietas unggul yang ditawarkan BATAN diperlukan untuk kebutuhan beras agar tercukupi. Bestari dan Mira-1, dengan potensinya yang cukup besar disertai sederet keunggulannya diyakini bisa menjadi salah satu pilar bagi ketahanan pangan nasional.

Catatan:
Artikel ini merupakan adaptasi dari Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi “A Scientific Journal for The Applications of Isotopes and Radiation” Vol. 5 No. 2 Desember 2009. Dengan Judul Perbaikan Padi Varietas Cisantana dengan Mutasi Induksi. Penulis:  Mugiono, Lilik Harsanti dan Azri Kusuma Dewi dari Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional.
Oleh:

Ahmad Hamdani




Oleh banyak pihak, Indonesia disebut sedang menikmati bonus demografi ketika memiliki jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding dengan penduduk usia muda (anak-anak dan balita) dan penduduk usia lanjutnya (lansia). Pemerintah sendiri mengklaim bonus demografi ini sudah dinikmati sejak 2012 yang lalu, dimana rasio ketergantungan penduduk di bawah 50% per 100 penduduk usia produktif. Melalui kekuatan tenaga kerja produktifnya, ke depannya bangsa Indonesia diharapkan mampumenguasai ekonomi dunia. Puncak bonus demografi yang dinikmati Indonesia, diperkirakan terjadi tahun 2028-2031 (Joko, 2015). Setelah itu, jumlah penduduk lansianya akan lebih banyak, karena penduduk usia produktif saat ini akan beralih menjadi penduduk lanjut usia.

Kegiatan menulis seringkali menjadi momok bagi kebanyakan orang. Begitu ringan memang dalam melafalkan kata ‘menulis’, tetapi untuk konsisten dalam menulis perlu semangat dan tekad yang kuat. Mengenai definsi menulis, MacArthur (2007:2) mengatakan “Writing is a powerful tool for getting thing done and a language skill to convey knowledge and information”. Menulis adalah alat paling baik untuk menyampaikan ide dan gagasan seseorang. Menulis merupakan keterampilan berbahasa untuk menyampaikan gagasan dan informasi.

Pertanyaannya, pernahkan Anda merasa seperti menyerah dalam menulis? Atau Anda pernah merasakan telah bekerja berjam-jam untuk menyelesaikan satu artikel untuk diposting hanya untuk mendapatkan satu comment? Atau yang lebih menyakitkan ketika tulisan sudah setengah jadi, tetapi hilang fokus dan buyar. Kita sama! Saya pun mengalami hal yang sama.
Penulis hebat yang puluhan bahkan ratusan tulisannya, pasti pernah mengalami kendala-kenadal di atas. Namun perbedaanya, mereka berhasil mengendalikan diri sehingga seolah tidak pernah pengalami kendala-kendala tersebut.

Salah satu tips yang bisa digunakan agar tetap semangat untuk menulis adalah mengetahui tujuan menulis dan manfaat yang akan didapatkan. Hal ini saya sajikan dalam 5 alasan kenapa harus menulis:
Oleh:
Ahmad Hamdani




Sebuah Pendahuluan
Tujuh puluh tahun sudah Indonesia dinyatakan sebagai negara yang merdeka. Hiruk pikuk, pahit manis kehidupan masyarakat mewarnai negeri ini. Jika diibaratkan sebagai usia manusia, tujuh puluh tahun merupakan masa dimana seseorang akan menuai hasil dari kerja kerasnya. Masa dimana segala kesusahan sudah terlewati dan berganti dengan kenikmatan. Namun, bagaimana dengan bangsa kita? Hingga saat ini, Indonesia masih menyisakan beragam masalah kependudukan. Belenggu kemiskinan, masih berada pada kubangan keterbelakangan, hingga dilabeli sebagai negara korup. Kemiskinan, keterbelakangan, dan citra negara korup ibarat paket lengkap yang cukup untuk mendeskripsikan keterpurukan Indonesia. Ketiga hal tersebut sejatinya bukan lagi masalah lokal, melainkan sudah menjadi fenomena nasional yang mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Begitu banyak teori yang menyebutkan penduduk sebagai salah satu faktor strategis dalam mendukung pembangunan nasional. Teori-teori tersebut sungguh telah mencerminkan bahwa penduduk adalah subyek dan obyek pembangunan. Posisi penduduk sebagai subyek adalah dalam rangka menjadi mesin penggerak pembangunan, oleh karena itu penduduk harus dibina dan ditingkatkan kualitasnya. Adapun posisi penduduk sebagai obyek, artinya pembangunan harus dapat dinikmati oleh masyarakat. Dengan demikian, pembangunan harus diperhitungkan dengan seksama dan memperhatikan kemampuan penduduk, sehingga masyarakat mampu berpartisipasi secara aktif.

Oleh:
Ahmad Hamdani



Sebuah Pendahuluan
Indonesia merupakan sebuah negara dengan jumlah penduduk cukup besar. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010, Indonesia memiliki 237,6 juta jiwa penduduk. Angka tersebut berhasil menempatkan Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar keempat di dunia. Adalah kenyataan yang tidak dapat ditolak,  Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.504 pulau besar dan kecil membentang dari Sabang sampai Merauke (Bedjo Sujanto, 2007: 32). Kondisi tanah yang relatif subur dan sinar matahari yang ada sepanjang tahun, menjadikan tanaman padi dapat tumbuh subur di hampir semua wilayah di Indonesia. Sehingga, makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia adalah beras. Oleh karena itu istilah pangan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah beras.
Beras merupakan makanan pokok bagi hampir seluruh masyarakat di Asia, termasuk Indonesia. Beras merupakan komoditas strategis, primadona dan utama dalam mendukung pembangunan sektor ekonomi dan ketahanan pangan nasional, serta menjadi basis utama dalam revitalisasi pertanian di masa mendatang. Hingga saat ini, beras masih tetap menjadi sumber gizi dan energi yang utama bagi lebih dari separuh penduduk Indonesia. Komoditi pertanian ini juga menjadi sangat vital perannya bagi negara kita, karena sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja pada sektor pertanian.  
Diberdayakan oleh Blogger.