Oleh:

Ahmad Hamdani




Oleh banyak pihak, Indonesia disebut sedang menikmati bonus demografi ketika memiliki jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding dengan penduduk usia muda (anak-anak dan balita) dan penduduk usia lanjutnya (lansia). Pemerintah sendiri mengklaim bonus demografi ini sudah dinikmati sejak 2012 yang lalu, dimana rasio ketergantungan penduduk di bawah 50% per 100 penduduk usia produktif. Melalui kekuatan tenaga kerja produktifnya, ke depannya bangsa Indonesia diharapkan mampumenguasai ekonomi dunia. Puncak bonus demografi yang dinikmati Indonesia, diperkirakan terjadi tahun 2028-2031 (Joko, 2015). Setelah itu, jumlah penduduk lansianya akan lebih banyak, karena penduduk usia produktif saat ini akan beralih menjadi penduduk lanjut usia.

Kegiatan menulis seringkali menjadi momok bagi kebanyakan orang. Begitu ringan memang dalam melafalkan kata ‘menulis’, tetapi untuk konsisten dalam menulis perlu semangat dan tekad yang kuat. Mengenai definsi menulis, MacArthur (2007:2) mengatakan “Writing is a powerful tool for getting thing done and a language skill to convey knowledge and information”. Menulis adalah alat paling baik untuk menyampaikan ide dan gagasan seseorang. Menulis merupakan keterampilan berbahasa untuk menyampaikan gagasan dan informasi.

Pertanyaannya, pernahkan Anda merasa seperti menyerah dalam menulis? Atau Anda pernah merasakan telah bekerja berjam-jam untuk menyelesaikan satu artikel untuk diposting hanya untuk mendapatkan satu comment? Atau yang lebih menyakitkan ketika tulisan sudah setengah jadi, tetapi hilang fokus dan buyar. Kita sama! Saya pun mengalami hal yang sama.
Penulis hebat yang puluhan bahkan ratusan tulisannya, pasti pernah mengalami kendala-kenadal di atas. Namun perbedaanya, mereka berhasil mengendalikan diri sehingga seolah tidak pernah pengalami kendala-kendala tersebut.

Salah satu tips yang bisa digunakan agar tetap semangat untuk menulis adalah mengetahui tujuan menulis dan manfaat yang akan didapatkan. Hal ini saya sajikan dalam 5 alasan kenapa harus menulis:
Oleh:
Ahmad Hamdani




Sebuah Pendahuluan
Tujuh puluh tahun sudah Indonesia dinyatakan sebagai negara yang merdeka. Hiruk pikuk, pahit manis kehidupan masyarakat mewarnai negeri ini. Jika diibaratkan sebagai usia manusia, tujuh puluh tahun merupakan masa dimana seseorang akan menuai hasil dari kerja kerasnya. Masa dimana segala kesusahan sudah terlewati dan berganti dengan kenikmatan. Namun, bagaimana dengan bangsa kita? Hingga saat ini, Indonesia masih menyisakan beragam masalah kependudukan. Belenggu kemiskinan, masih berada pada kubangan keterbelakangan, hingga dilabeli sebagai negara korup. Kemiskinan, keterbelakangan, dan citra negara korup ibarat paket lengkap yang cukup untuk mendeskripsikan keterpurukan Indonesia. Ketiga hal tersebut sejatinya bukan lagi masalah lokal, melainkan sudah menjadi fenomena nasional yang mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Begitu banyak teori yang menyebutkan penduduk sebagai salah satu faktor strategis dalam mendukung pembangunan nasional. Teori-teori tersebut sungguh telah mencerminkan bahwa penduduk adalah subyek dan obyek pembangunan. Posisi penduduk sebagai subyek adalah dalam rangka menjadi mesin penggerak pembangunan, oleh karena itu penduduk harus dibina dan ditingkatkan kualitasnya. Adapun posisi penduduk sebagai obyek, artinya pembangunan harus dapat dinikmati oleh masyarakat. Dengan demikian, pembangunan harus diperhitungkan dengan seksama dan memperhatikan kemampuan penduduk, sehingga masyarakat mampu berpartisipasi secara aktif.

Oleh:
Ahmad Hamdani



Sebuah Pendahuluan
Indonesia merupakan sebuah negara dengan jumlah penduduk cukup besar. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010, Indonesia memiliki 237,6 juta jiwa penduduk. Angka tersebut berhasil menempatkan Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar keempat di dunia. Adalah kenyataan yang tidak dapat ditolak,  Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.504 pulau besar dan kecil membentang dari Sabang sampai Merauke (Bedjo Sujanto, 2007: 32). Kondisi tanah yang relatif subur dan sinar matahari yang ada sepanjang tahun, menjadikan tanaman padi dapat tumbuh subur di hampir semua wilayah di Indonesia. Sehingga, makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia adalah beras. Oleh karena itu istilah pangan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah beras.
Beras merupakan makanan pokok bagi hampir seluruh masyarakat di Asia, termasuk Indonesia. Beras merupakan komoditas strategis, primadona dan utama dalam mendukung pembangunan sektor ekonomi dan ketahanan pangan nasional, serta menjadi basis utama dalam revitalisasi pertanian di masa mendatang. Hingga saat ini, beras masih tetap menjadi sumber gizi dan energi yang utama bagi lebih dari separuh penduduk Indonesia. Komoditi pertanian ini juga menjadi sangat vital perannya bagi negara kita, karena sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja pada sektor pertanian.  
Oleh:
Ahmad Hamdani




Di masa lampau, ketika penduduk bumi masih sedikit, mungkin sangat jarang atau bahkan tidak ada pemberitaan tentang kerusakan alam dan ancaman terhadap keseimbangan lingkungan. Akan tetapi, dewasa ini pemberitaan tersebut sepertinya sudah menjadi hal yang biasa. Hampir setiap tahun bumi pertiwi kita dilanda bencana. Revolusi industri yang belum begitu lama hadir, ternyata memberikan  dampak  buruk  juga  terhadap  lingkungan.  Manik  (2009), menyebutkan bahwa rovolusi industri di negara-negara barat pada abad ke-19 telah mengakibatkan polusi atau pencemaran tanah, air dan udara. Perkembangan dan kemajuan negara-negara industri sekaligus juga menimbulkan masalah lingkungan di negara-negara sedang berkembang karena bahan baku untuk keperluan industri tersebut sebagian didatangkan dari negara-negara sedang berkembang.

Berita memprihatinkan lainnya, banjir kerap menimpa beberapa daerah di Indonesia ketika musim hujan dan ancaman kekeringan jika musim kemarau singgah. Banyak hutan Indonesia yang dibuka dan rawa atau lahan gambut dikeringkan  dengan  alasan  ekonomi,  akibatnya  pohon  semakin  sedikit  yang artinya  menurun  pula produksi  oksigen  dan  gas  karbondioksida  yang  mampu dihisap oleh pohon. Tanah pun tidak mampu menampung air banyak seiring dengan keberadaan pohon sebagai penopangnya yang semakin sedikit, dampaknya ketersediaan  air  dan  udara yang  bersih  menjadi  berkurang.  Kiranya  kondisi- kondisi diatas sudah menjadi tanda bahwa keseimbangan alam telah terganggu.


Oleh:
Ahmad Hamdani

Secara geografis, Indonesia adalah negara kepulauan  yang terdiri lebih dari 17.504 pulau besar dan kecil (Bedjo Sujanto, 2007: 32), membentang dari Sabang sampai Merauke. Jumlah penduduk 237,6 juta jiwa (Sensus Penduduk Indonesia 2010) berhasil menempatkan Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar keempat di dunia. Hal tersebut menjadikan masyarakat Indonesia memiliki keunikan dan karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari budaya, bahasa, suku bangsa, ras, dan agama. Keragaman ini telah membentuk Indonesia menjadi negara dengan struktur sosial yang multikultural. Hal ini sesungguhnya telah disadari oleh para pendiri bangsa sebagai sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipisahkan. Karenanya, untuk tetap menjaga kerukunan nasional, mereka menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai sebuah semboyan persatuan. Perbedaan tidak lagi dipahami sebagai alasan bagi adanya permusuhan, namun dijadikan modal untuk membngun bangsa dengan semangat persatuan.





“Surga di bawah telapak kaki ibu”, sebuah kalimat yang tak asing lagi di telinga kita. Kalimat pendek ini sepertinya sudah cukup menggambarkan betapa mulianya seorang ibu. Hal ini tentunya bukan tanpa alasan, ibu lah yang mengandung kita selama sembilan bulan, mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan kita, dan memberikan pelayanan terbaiknya untuk membesarkan kita. Ialah ibu, sosok yang mungkin rela memberikan apa saja untuk anaknya. Seperti sanjungan kebanyakan anak untuk ibunya, engkau ibuku, adalah sumber inspirasi terbesar dalam hidupku. Terimakasih bu…
Sama sperti ibu, ayah adalah sosok yang juga pasti rela memberikan apa saja untuk anaknya. Ayah, adalah sosok luar biasa dalam hidupku. Kepala keluarga yang bijak nan menginspirasi, sosok yang sampai saat ini selalu mengingatkanku akan semua mimpi-mimpiku. Terimakasih yah...
Diberdayakan oleh Blogger.